Rabu, 31 Oktober 2012

Tragedi Indonesia


Saat ini kita masih saja menjadi bangsa yang terjajah dalam segi pemikiran dan daya literasi oleh pragmatisme dan banalisme. Kurangnya kesadaraan kita akan kemampuan refleksi diri menjadikan kita bangsa yang kehilangan wahana pembelajaran untuk menakar, memperbaiki, dan memperbaharui diri sendiri.

Penaklukan Daya Pikir
Inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi kita sebagai bangsa yang dahulu berhasil memancangkan pikiran dan keberaksaraan sebagai bukti kemajuan. Fakta saat ini mengatakan bahwa pikiran dan keberaksaraan tidak lagi menjadi ukuran kehormatan, bahkan kepintaran kembali dihinakan oleh kebangsawanan baru yakni kroni dan kemewahan.
Tanpa kapasitas pembelajaran, bangsa Indonesia  sangat lambat untuk berkembang, pertumbuhan penampilan fisiknya tidak diikuti perkembangan rohaninya. Bahkan tampilan luar dari kemajuan peradaban modern selalu ditiru tanpa memilah antara yang baik dan yang buruk serta cenderung mempertahankan yang buruk dan membuang yang baik.
Dalam situasi demikian, benar yang dikatakan Taufiq Ismail sebagai “generasi nol buku”, generasi muda saat ini akan mengalami kelumpuhan daya tulis , daya baca, dan daya pikir.

Gerakan Kebudayaan
            Gerakan kebeduyaan yang mengeluhkan akan “generasi nol buku” sangat penting adanya untuk melakukan koreksi terhadap kecenderungan untuk menjadikan politik dan ekonomi sebagai panglima. Dalam teori sosial secara umum, responsibilitas untuk perubahan biasanya dialamatkan pada factor-faktor semacam modernisasi, kapitalisme, imperialisme, figur karismatik atau individu-individu berpengaruh.
Reformasi sosial merupakan fungsi dari perubahan proses belajar secara kolektif, yang membawa transformasi tata nilai, ide, dan jalan hidup (ways of life).
            Hal ini membuktikan bahwa reformasi sosial perlu berjejak pada reformasi sosial-budaya. Gerakan kebudayaan merupakan jantung dari reformasi sosial. Hebert Marcuse menekankan dimensi estetik dari gerakan sosial pada dekade 1960-an, dengan menegaskan bahwa dalam seni, musik dan sastra-lah gerakan-gerakan sosial mengigat dan menyimpan tradisi kritik dan perlawanan (Marcuse,1969).
            Richard Flacks dalam analisinya tentang “tradisi kiri” Amerika, yang mengindikasikan bahwa gerakan sosial seringkali lebih penting sebagai aktor budaya ketimbang politik (Flacks,1988).
                       
Gerakan kebudayaan menjadi alternatif menjaga kewarasan publik dalam ketiadaan platform politik yang jelas. Dengan sastra, nyanyian, dan seni yang lain, yang dibudayakan dalam masyarakat bisa membuat gerakan dan cita-cita sosial dapat bertahan dalam memori kolektif.
            Antonio Skarmeta seorang sastrawan Chile mengatakan, “Jika modernitas bukan sekedar budaya efisiensi, dan jika demokrasi bukan hanya pesta pemilihan dan penjelimetan prosedur politik, akan selalu ada intelektual sastrawan di seberang struktur politik berhadapan dengan mereka yang memburu kekuasaan di luat institusionalisasi akademik dan negara. Akan selalu ada intelektual yang melontarkan pertanyaan jenaka, menafsirkan kembali kontroversi dengan memunculkannya lagi, untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang mungkin diabaikan agenda publik, atau digelapkan oleh media masih absah di pertanyakan” (Skarmeta 1996: 48-49).

Tidak ada komentar: