Saat ini kita masih
saja menjadi bangsa yang terjajah dalam segi pemikiran dan daya literasi oleh
pragmatisme dan banalisme. Kurangnya kesadaraan kita akan kemampuan refleksi
diri menjadikan kita bangsa yang kehilangan wahana pembelajaran untuk menakar,
memperbaiki, dan memperbaharui diri sendiri.
Penaklukan
Daya Pikir
Inilah yang menjadi
pertanyaan besar bagi kita sebagai bangsa yang dahulu berhasil memancangkan
pikiran dan keberaksaraan sebagai bukti kemajuan. Fakta saat ini mengatakan
bahwa pikiran dan keberaksaraan tidak lagi menjadi ukuran kehormatan, bahkan
kepintaran kembali dihinakan oleh kebangsawanan baru yakni kroni dan kemewahan.
Tanpa kapasitas
pembelajaran, bangsa Indonesia sangat
lambat untuk berkembang, pertumbuhan penampilan fisiknya tidak diikuti
perkembangan rohaninya. Bahkan tampilan luar dari kemajuan peradaban modern
selalu ditiru tanpa memilah antara yang baik dan yang buruk serta cenderung
mempertahankan yang buruk dan membuang yang baik.
Dalam situasi demikian,
benar yang dikatakan Taufiq Ismail sebagai “generasi nol buku”, generasi muda
saat ini akan mengalami kelumpuhan daya tulis , daya baca, dan daya pikir.
Gerakan
Kebudayaan
Gerakan
kebeduyaan yang mengeluhkan akan “generasi nol buku” sangat penting adanya
untuk melakukan koreksi terhadap kecenderungan untuk menjadikan politik dan
ekonomi sebagai panglima. Dalam teori sosial secara umum, responsibilitas untuk
perubahan biasanya dialamatkan pada factor-faktor semacam modernisasi,
kapitalisme, imperialisme, figur karismatik atau individu-individu berpengaruh.
Reformasi sosial
merupakan fungsi dari perubahan proses belajar secara kolektif, yang membawa
transformasi tata nilai, ide, dan jalan hidup (ways of life).
Hal
ini membuktikan bahwa reformasi sosial perlu berjejak pada reformasi
sosial-budaya. Gerakan kebudayaan merupakan jantung dari reformasi sosial.
Hebert Marcuse menekankan dimensi estetik dari gerakan sosial pada dekade
1960-an, dengan menegaskan bahwa dalam seni, musik dan sastra-lah
gerakan-gerakan sosial mengigat dan menyimpan tradisi kritik dan perlawanan
(Marcuse,1969).
Richard
Flacks dalam analisinya tentang “tradisi kiri” Amerika, yang mengindikasikan
bahwa gerakan sosial seringkali lebih penting sebagai aktor budaya ketimbang
politik (Flacks,1988).
Gerakan kebudayaan
menjadi alternatif menjaga kewarasan publik dalam ketiadaan platform politik
yang jelas. Dengan sastra, nyanyian, dan seni yang lain, yang dibudayakan dalam
masyarakat bisa membuat gerakan dan cita-cita sosial dapat bertahan dalam
memori kolektif.
Antonio
Skarmeta seorang sastrawan Chile mengatakan, “Jika modernitas bukan sekedar
budaya efisiensi, dan jika demokrasi bukan hanya pesta pemilihan dan
penjelimetan prosedur politik, akan selalu ada intelektual sastrawan di
seberang struktur politik berhadapan dengan mereka yang memburu kekuasaan di
luat institusionalisasi akademik dan negara. Akan selalu ada intelektual yang
melontarkan pertanyaan jenaka, menafsirkan kembali kontroversi dengan
memunculkannya lagi, untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang mungkin diabaikan
agenda publik, atau digelapkan oleh media masih absah di pertanyakan” (Skarmeta
1996: 48-49).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar